-CHAPTER TWO-
THE HALLS HAVE EYES
“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi pada Joe, Tabib Ban Bebi?”
Wajah Eva sangat cemas, ia khawatir melihat kondisi Joe yang ia temukan tergeletak pingsan di tengah kebun sore ini. Sang tabib yang bernama Bobo Ban Bebi tak menjawab pertanyaan Eva dan terus memeriksa tubuh Joe.
Setelah menemukan Joe tergeletak tak berdaya di halaman rumah, Eva sempat panik. Karena tidak kuat mengangkat atau menyeret tubuh Joe seorang diri ke pondok, Eva berlari ke desa untuk meminta bantuan. Dia beruntung karena tak jauh dari pondok Joe, dua orang lelaki setengah baya yang dikenal bernama Paman Qiquk dan Paman Gber sedang berjalan-jalan menuju padang rumput. Mereka memang biasa pergi ke padang sore-sore untuk mencari serangga.
Setelah mendengar permintaan tolong Eva, Paman Qiquk bergegas mengikuti Eva dan membantu mengangkat tubuh Joe ke pondok sementara Paman Gber kembali ke desa untuk memanggil Tabib Bobo Ban Bebi yang merupakan tabib nomor wahid di Desa Minou.
Kepala Tabib Ban Bebi menggeleng berulang saat tangannya memeriksa nadi dan dada Joe. Hal ini membuat Eva makin cemas, kenapa sang tabib menggelengkan kepala? Parahkah sakit yang diderita Joe? Seumur-umur memang baru kali ini Joe menderita sakit sampai pingsan.
“Bagaimanakah keadaannya, Pak Tabib?” kembali Eva bertanya.
Paman Qiquk dan Paman Gber yang juga bersahabat dengan Joe ikut bertanya-tanya. Mereka bertiga menanti jawaban sang tabib dengan wajah khawatir. Tabib Bobo Ban Bebi adalah ahli kesehatan kelas satu di Desa Minou, konon dulu sebelum menetap di Desa Minou, Tabib Ban Bebi adalah seorang tabib istana, walaupun orang tua itu tidak pernah mau mengaku, di istana mana sebenarnya dia pernah mengabdi. Eva, Paman Qiquk dan Paman Gber percaya sepenuhnya pada diagnosa sang tabib. Wajahnya yang welas asih dengan rambut dan jenggot panjang berwarna putih terlihat kebingungan ketika tangan-tangan keriputnya memeriksa jengkal demi jengkal tubuh Joe Bump.
Mereka menunggu, tapi sang tabib masih belum mau menjawab pertanyaan Eva.
Kepala sang tabib mendongak ke atas. Tiba-tiba ia membisikkan sesuatu dengan sangat pelan. “Gens… ashd.. b…”
Eva, Paman Qiquk dan Paman Gber kebingungan, mereka saling berpandangan. Apa maksud bisikan aneh sang tabib itu?
“Maaf, Tabib Bobo Ban Bebi. Tapi kami tidak mendengar ucapan anda, bisa diulang?” tanya Paman Qiquk.
“Gens… ashd.. b…” ulang Sang Tabib perlahan, kepalanya masih mendongak dan matanya menatap ke atas langit-langit.
Paman Gber menggeleng, ia masih belum mendengar kata-kata yang diucapkan sang tabib. “Maaf, Tabib. Tapi ucapan anda masih terlalu pelan.”
Sang tabib menatap ketiga orang disampingnya dengan jengkel. Ia menunjuk ke atas dan memperkeras ucapannya. “Itu lho, genteng di atas udah bolong, kalau hujan pasti bocor.”
“Walah.”
“Hngghhhhhhh…” sebuah erangan kecil keluar dari mulut Joe.
Eva tersenyum gembira. “Dia bangun!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Hall Istana Gargan merupakan sebuah ruangan besar yang biasa digunakan untuk rapat resmi dan pesta kerajaan. Ruangan hall itu sangat besar dengan dinding kokoh dan langit-langit yang tinggi, di setiap sudut dinding ditempelkan lukisan para raja Gargan dari masa ke masa, termasuk lukisan Lord Croaz yang sedang asyik naik keledai (memang posenya sedikit memalukan, tapi itu satu-satunya lukisan di mana Lord Croaz terlihat tampan, paling tidak kalau dibandingin sama keledai). Hall ini sangat berguna, terutama kalau sang raja sedang kekurangan duit atau butuh tambahan dana buat jajan. Lord Croaz biasa menyewakan hall istana tersebut untuk acara pernikahan atau pameran buku.
Saat ini Lord Croaz tengah mengumpulkan para jendral utama yang menjadi andalannya di Hall Istana Gargan. Para jendral menghadap Lord Croaz yang duduk angkuh di singgasananya didampingi penasehat setia sang raja, Dalgude DePoyo.
“Jendral Herge!” panggil Dalgude.
“Hadir!”
“Jendral Morris!”
“Hadir!”
“Jendral Goscinny!”
“Hadir!”
“Jendral Peyo!”
“Hanyir!”
“…” Dalgude melirik ke depan, lalu mengulangi lagi panggilannya. “Jendral Peyo?”
“Hanyir!!”
“…Jendral Peyo?”
“Hamba hanyir!!”
“Err… kok jawabannya ‘hanyir’ bukan ‘hadir’?”
“Monghon maab, Penyanyehat Dalgude. Hamba sedang filek!”
“Walah, ya sudah. Jangan lupa nanti minum obat dulu sebelum maju perang.”
Dalgude melanjutkan lagi absensinya. “Jendral Lambil?”
“Hadir!”
“Baik, ini yang terakhir, Jendral Uderzo?”
Tidak ada jawaban.
“Jendral Uderzo?”
Tidak ada seorangpun menjawab.
Dalgude melirik ke arah para jendral yang hadir, “Ada yang tahu dimanakah Jendral Uderzo berada?”
Akhirnya Jendral Goscinny yang menjawab. “Kalau tidak salah, seminggu yang lalu Lord Croaz menyetujui ijin cuti Jendral Uderzo, penasehat. Istrinya kan baru saja melahirkan.”
“Ow, baiklah kalau begitu.” Dalgude garuk-garuk kepala, “kita mulai rapat ini dengan lima orang jendral yang hadir! Saya serahkan mimbar kepada Yang Mulia Lord Croaz.”
“Terima kasih, Dalgude.” Lord Croaz angkat bicara sembari menatap satu persatu jendral kebanggaannya. “Seperti yang mungkin sudah kalian ketahui, malam ini kita akan berangkat melalui Hutan Fangar untuk mulai menyerang Kerajaan Oro, untuk memudahkan rute, kalian dianjurkan menyusuri Sungai Poko. Di ujung terluar Hutan Fangar, hanya ada satu desa kecil yang menjadi penghalang untuk mencapai Kerajaan Oro, bumihanguskan saja desa itu.”
“Mohon maaf, tapi kalau cuma satu desa kecil, apa tidak sebaiknya salah satu dari kami saja yang menyerangnya? Lebih efektif dan hemat biaya, Yang Mulia.” Usul Jendral Goscinny. “Apalagi berdasarkan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh penasehat, mereka sama sekali tidak memiliki pasukan pelindung, tentunya akan mudah sekali menguasai desa kecil seperti itu.”
“Bagaimana menurutmu, Dalgude?” tanya Lord Croaz.
“Ada benarnya usulan Jendral Goscinny itu, Yang Mulia.” Jawab Dalgude. “Tidak perlu mengirim ribuan pasukan hanya untuk membumihanguskan satu desa kecil yang tak berdaya. Kirim saja Jendral Peyo yang sedang pilek itu bersama beberapa ratus orang pasukan.”
Lord Croaz manggut-manggut. “Baiklah, kalau begitu…”
“Permisi, permisi…” Seorang pembantu kerajaan masuk ke hall dengan santai. Pembantu itu adalah seorang wanita setengah baya berkulit hitam bertubuh gemuk yang mengenakan celemek dapur, ia membawa sebuah nampan berisi segelas minuman. “Lord Croaz, sekarang kan sudah saatnya minum susu? Kok belum diminum susunya? Kalo dingin kan nggak enak? Nanti dimarahi Ibu Suri lho!”
“Yeeee, Nanny Bolobolo kok datangnya sekarang sih? Ini kan baru rapat!” Lord Croaz ngambek. “Nanti aja napa kalo pas mau bobo?”
“Jangan suka ngambek ah, jelek banget! Ayo diminum dulu susunya, ini kan bagus buat kesehatan!” Pembantu kerajaan bernama Nanny Bolobolo itu segera menyodorkan nampan berisi segelas susu pada Lord Croaz. Pimpinan Kerajaan Gargan yang perkasa itu pun tak kuasa menolak, dengan wajah merah padam karena malu pada para jenderalnya yang pura-pura tidak melihat, Lord Croaz meminum susu yang diberikan kepadanya.
“Eh, ada Mas Dalgu!” Nanny Bolobolo mendekati Dalgude dengan genit. “Apa kabarnya nih Mas Dalgu? Kok gak pernah nyamperin Nanny lagi di dapur?”
“Euh… a-anu… ka-kapan-kapan deh…” Dalgude segera menyingkir sebelum didekati oleh Sang Nanny.
“Halo Jendral-jendral!! Duh macho-macho banget sih! Godain kita dong!” kali ini Nanny Bolobolo berlari ke arah para jendral yang sudah memasang wajah ketakutan.
“HIYAAAAAAA!!!” Para jendral bubar begitu Nanny Bolobolo mendekat.
“Nanny! Udah sana keluar dulu! Ini rapat serius nih!” pinta Lord Croaz dengan memelas. “Nih, susunya udah abis!”
“Oke deh, sampai juga lagi semuanya…” dengan genit Nanny Bolobolo mengambil gelas susu yang telah tandas berikut nampannya dan meninggalkan ruang rapat.
Dalgude dan para jendral menarik nafas lega saat sosok tubuh raksasa Nanny Bolobolo menutup pintu. Dalgude dan para jendral pun bertukar senyum sambil mengelap jidat mereka yang keringetan.
Tiba-tiba…
“Eh, kelupaan! Sorry tadi belum nawarin, ada yang mau minum susu juga?” Nanny Bolobolo menerobos masuk kembali ke ruangan.
“HIYAAAAAAAAA!!!” Para jendral bubar kembali.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Joe Bump mengejapkan matanya berulangkali. Di mana dia?
Dia tadi sedang memotong kayu di halaman belakang. Kok sekarang dia sudah berada di dalam pondok?
“Sudah bangun, Joe?” panggil satu suara lembut yang sudah sangat dikenal Joe.
“Eva?”
“Kami juga ada di sini, Joe.” Panggil satu suara lain, suara laki-laki.
Joe mengejapkan mata untuk melihat sosok-sosok lain yang saat itu berada dalam pondoknya, perlahan ia mengenali mereka. “Paman Qiquk? Paman Gber? Kok kalian ada di sini? Apa yang terjadi? Lho? Ada Tabib Bobo Ban Bebi juga?”
“Tadi sore Eva menemukanmu pingsan di halaman belakang. Eva yang kebingungan meminta bantuan kami yang kebetulan lewat dan kamipun mengundang Tabib Ban Bebi.”
Susah payah Joe berusaha bangkit, tubuhnya lemas sekali, ia harus susah payah dibantu Eva agar bisa duduk di pembaringan. Joe tak terbiasa lemas seperti ini, semuanya jadi terasa asing. Bagi orang yang seumur hidup sekuat dan seperkasa Joe, kondisi lemas dan tak berdaya seperti ini sangat aneh sekali. “Terima kasih atas perhatian kalian semua, aku jadi tidak enak… merepotkan saja…”
“Sudahlah, kamu juga sudah sering menolong kami, Joe.” Kata Paman Gber. “Sebenarnya apa yang terjadi pada Joe, Tabib Ban Bebi?”
“Ada bumi ada langit, ada hitam ada putih, ada kekuatan, tentu saja ada kelemahan.” Kata Tabib Bobo Ban Bebi sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang. “Selama ini kita mengenal Joe yang sangat kuat, cepat dan tahan banting. Kita tidak menyadari bahwa di balik kekuatan yang begitu besar, tersimpan kelemahan yang pada akhirnya tidak bisa disembunyikan begitu saja oleh kekuatan alamiah.”
“Err… sumpah aku gak ngarti apa maksudnya, Tabib Ban Bebi. Bisa diperjelas?”
“Aku telah menemukan kelemahan Joe Bump!!”
“A-apa kelemahannya?” tanya Eva.
“Masuk angin!!” jawab Tabib Ban Bebi dengan wajah sangat yakin.
“HEH?”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Nanny Bolobolo berjalan pelan menyusuri koridor kerajaan sambil membawa cawan lilin, berulangkali wanita bertubuh gemuk itu melirik ke kanan kiri, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Ia lalu turun ke arah lorong tempat beberapa kamar berada. Lorong yang ditelusuri sangat minim cahaya, Nanny Bolobolo harus berhati-hati agar tidak menabrak tembok. Setelah berulangkali memastikan, Nanny Bolobolo sampai di depan sebuah pintu kayu yang sangat sederhana.
Put. Put. Put.
Nanny Bolobolo mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam.
(Just curious. Emang suara mengetuk pintu itu ‘Put. Put. Put’? Bukannya ‘Tok. Tok. Tok’. Atau gimana gitu? Mohon maaf pembaca semua. Karena keterbatasan dana, penulis terpaksa tidak bisa menyewa sound effect yang sesuai dengan keinginan pembaca. Mohon maaf atas kekurangnyamanan ini, semoga bisa dijadikan maklum).
Put. Put. Put.
Sekali lagi Nanny Bolobolo mengetuk pintu.
Belum ada jawaban.
Put. Put. Put.
Nanny Bolobolo mengulang lagi.
Masih belum ada jawaban.
BOM! BOM! BOMMM!!
Kali ini Nanny Bolobolo menggedor pintu.
“Iyaaaa… iyaaaa… sudah bangun kok! Baru pake celana!!” terdengar teriakan jengkel dari dalam. “Siapa sih malam-malam gedor-gedor pintu? Gak tau apa orang lagi capek…”
Pintu pun dibuka, di hadapan Nanny Bolobolo berdiri seorang lelaki tua berkumis lebat berambut acak-acakan dengan baju amburadul dan celana yang serampangan saja dipakai.
“Barov! Dasar lelaki tua busuk! Tidur saja kerjaanmu!”
“Nanny Bolobolo?” Lelaki tua nan busuk yang ternyata bernama Barov itu terkejut melihat kedatangan Nanny Bolobolo ke kamarnya.
“Ada kerjaan penting buatmu! Pekerjaan rahasia!” Nanny Bolobolo masuk ke kamar Barov dan menutup pintu. Nanny Bolobolo mendekat ke arah Barov dan berbisik dengan hati-hati. “Lord Croaz sedang bersiap menyerang Kerajaan Oro. Mereka akan menghancurkan Desa Minou terlebih dahulu. Penyerangan pertama hanya akan terdiri dari beberapa ratus orang saja, dipimpin oleh Jendral Peyo. Tugas mereka hanya satu, menghancurkan Desa Minou.”
“Desa Minou? Bukankah itu tempat…”
“Ya, itu tempat tinggal Bobo Ban Bebi. Kita harus memperingatkannya, aku tidak bisa meninggalkan Jaggar, tapi kau bisa.”
“Gila! Di luar sana pasukan perang Gargan sedang berkumpul! Bagaimana aku bisa…”
“Bilang saja kamu disuruh Ibu Suri mencari jamur di Hutan Fangar untuk dibuat jamu awet muda!”
“Malam-malam begini cari jamu? Yang benar saja!!”
“Bilang saja jamunya hanya bisa didapatkan tepat sebelum matahari terbenam! Bohong dikit napa sih? Susah amat! Ini masalah genting! Hidup mati orang banyak akan tergantung kepadamu!”
“Aku tidak biasa berbohong. Bohong itu dosa.”
“Halah, dasar lelaki tua busuk! Pokoknya aku tidak mau tau, malam ini kamu harus segera memperingatkan Bobo Ban Bebi di desa Minou. Pakailah kuda tercepat yang bisa kau ambil dari istal.”
“Aku tidak biasa mencuri kuda dari istal. Mencuri itu dosa.”
“Monyet! Sudah sana! Pergi!”
“I-iyah! Siap!” dengan buru-buru Barov membenahi pakaiannya yang acak adul dan menyisir rambut, ia mengenakan pakaian khas tukang sapu kerajaan Gargan dan bergegas membuka pintu kamar. Nanny Bolobolo ikut keluar kamar. “Doakan aku selamat, Nanny.”
“Selalu, Barov. Sampaikan salamku pada Bobo Ban Bebi.”
“Tentu.”
“May the force be with you, Barov.”
“Err… itu bukannya kalimat khas dari Star Wars, Nanny?”
“Eh sorry. Resistance is futile.”
“Err… kalo yang itu dari Star Trek.”
“Waduh, jangan-jangan kita belum punya kalimat khas ya, Barov?”
“Belum, Nanny. Penulis cerita kita ini orangnya kurang kreatif.”
“Baiklah, kalau ada sumur di ladang… err… ah sudahlah…”
“Selamat tinggal, Nanny.”
“Selamat jalan, Barov.”
Dengan langkah yang diluar dugaan ternyata amat lincah, Barov meninggalkan kamarnya. Nanny Bolobolo melirik kanan kiri dan bergegas kembali ke dapur istana utama. Belum sampai sepuluh langkah, tangan seseorang menyentuh pundak sang Nanny.
“HUWEEEEE!!” teriak Nanny dengan genit.
“Na-Nanny! Ini aku kok!” rupa-rupanya Barov kembali menemui Nanny.
“Monyet! Sontoloyo! Ngaget-ngagetin aja! Ngapain balik lagi kesini?”
“A-anu, tapi aku bisa pinjem duit dulu gak buat uang saku? Siapa tau nanti kehausan di jalan?”
“Kepret!”

Weleh-weleh,
Ini udah 6.529 kata, kok belum dimasukin ke Word Counter, mas?
*hobi ngitungin kata melulu dari tadi*
hihi..