Hari sudah hampir pagi, namun kegelapan masih bersinggasana, sinar mentari yang masih malu-malu belum mampu menggantikan gelapnya malam yang tak berbintang. Butuh beberapa jam lagi bagi sang mentari untuk sepenuhnya bisa menggeser kedudukan raja malam. Cahaya bulan tak mampu menembus pekatnya awan, bintang seolah tak dijinkan berkelip, kabut tebal turun menyelimuti bumi Aesterra, kegelapan benar-benar berjaya.
Dalam keremangan cahaya obor di setiap ujungnya, sebuah istana besar berdiri megah dan mengancam. Istana itu terletak di atas sebuah bukit berawa, dengan parit besar berisikan lumpur dan air kotor yang mengelilinginya. Cahaya yang temaram dan kabut yang tebal, ditambah gelapnya dinding dan hiasan hewan bersayap yang menyeringai menyeramkan menambah angkernya suasana di sekitar istana.
Dinding gelap, tebal dan tinggi yang berada di struktur luar istana mengelilingi halaman yang berada di dalam bagaikan pagar pelindung, di setiap ujungnya berdiri satu menara bulat yang menjulang ke atas langit. Di halaman dalam yang terlindung oleh dinding luar yang tak tertembus, menjulanglah satu kompleks istana raksasa dengan menara-menara yang berdiri megah.
Istana kegelapan itu adalah Istana Jaggar, pusat kerajaan Gargan.
Malam itu, di salah satu menara bulat yang menjulang di dinding luar Jaggar, dua sosok manusia ganjil mengendap-endap mencoba menaiki menara di tengah gelapnya malam.
Kegelapan yang…
JDUK!
“Adooohhhhh!!” Satu sosok tinggi kurus mengelus-elus kepalanya yang benjol setelah menabrak dinding menara yang terbuat dari batu. “Dalgude! Di mana kamu?! Dalgudeee!! Sapa yang naruh tembok di sini sih?”
“Iya… iyaaa… saya ada di sini, Yang Mulia.” Terdengar teriakan di ujung lain.
“Kenapa di sini gelap sekali? Mana saklar lampunya?”
“Cerita ini settingnya fantasi medieval, Yang Mulia. Lampu belum diciptakan.”
“Kepret! Ya sudah! Nyalakan lilin atau obor!”
“I-iya, Yang Mulia. Segera laksanakan, saya ambil api dulu di obor di ujung sana.”
JDUK! JDUK! JDUK! JDUK!
“Dalgudeee!! Suara apa itu jduk jduk?”
“Aduh, mo-mohon maap, Yang Mulia. Itu suara saya nubruk tembok. Saya juga gak bisa lihat apa-apa. Duh, benjol nih.”
Tak lama kemudian beberapa obor menyala dan menerangi menara yang tadinya gelap. Kedua sosok manusia itu melanjutkan perjalanan mereka ke atas menara, naik sampai ke ujung tertinggi di mana mereka bisa menikmati suasana malam yang gelap.
Sosok tinggi kurus yang berada di depan memiliki wajah yang susah dijabarkan dengan kata-kata, jelek nggak, ancur iya. Sosok itu memiliki kumis tipis melintang jarang di atas bibir, gigi kelinci yang nongol ke depan lebih jauh dari hidung, rambut tipis menjelang botak, hidung pesek dan mata yang terbelalak tapi berpandangan kosong. Perawakan yang tinggi kurus dan membungkuk makin memperburuk penampilannya. Walaupun penampilannya agak-agak ancur, tapi sosok ini mengenakan pakaian yang sangat megah dan mewah. Baju kebangsaan Gargan yang ia kenakan luar biasa indah dan terbuat dari kain yang sangat mahal walaupun hanya dihiasi warna hitam dan emas. Jubah bersayap berwarna gelap yang kadang berkibar ditiup angin malam menambah aksen angker sosok ganjil ini.
Dalgude DePoyo, sosok hamba setia mengikuti langkah majikannya sampai ke atas menara. Tidak banyak yang bisa dijabarkan dari sosok Dalgude, wajahnya biasa-biasa saja, tidak ganteng tidak juga jelek. Rambutnya yang berwarna kecoklatan dipotong melingkar membentuk batok kelapa, wajahnya bulat dan berkesan sedikit gemuk, tubuhnya pendek dan gempal. Pakaiannya terbuat dari bahan yang mahal tapi berdesain sederhana. Sosok yang biasa-biasa saja.
Dalgude menggerutu dalam hati, dia tadi sedang terlelap dan membayangkan sedang bercinta dengan mantan kekasih di desa ketika tuannya membangunkan di tengah malam gelap ini. Entah apa maunya dia mengajak ke menara ini, apa coba yang mau dinikmati? Pemandangan gak kelihatan, anginnya dingin, bukannya terhibur bisa-bisa malah masuk angin. Duh, betapa inginnya dia kembali ke tempat tidur dan melanjutkan mimpi yang tadi.
“Dalgude.”
Panggilan sang majikan membuyarkan lamunan Dalgude. “Siap, Yang Mulia.”
Saat itu mereka berdua telah sampai di puncak menara. Seperti perkiraan Dalgude, tidak nampak apa-apa dari atas situ, pemandangan di luar sangat gelap dan tertutup kabut. Angin dingin berhembus menusuk kulit, untung saja Dalgude mengenakan baju berlapis-lapis.
“Dalgude.”
“Siap, Yang Mulia.” Apaan sih manggil melulu, batin Dalgude dongkol.
“Aku tidak bisa tidur.”
“Kenapa, Yang Mulia? Jangan-jangan Ibu Suri menyembunyikan lagi boneka beruang Yang Mulia?”
“Bukan masalah itu, Dalgude.”
“Lalu apa gerangan masalah yang sedang dipikirkan? Mungkin saya bisa membantu?”
“Ini masalah penaklukan, Dalgude. Besok pasukanku akan mulai bergerak menaklukkan seluruh penjuru negeri. Pasukanku yang kuat dan sangat kubanggakan.” Kata sosok berjubah di hadapan Dalgude.
“Oh itu.” Dalgude menarik nafas lega, kirain masalah apaan kok pake curhat segala. “Mungkin Yang Mulia terlalu senang sehingga tidak bisa tidur. Jangan khawatir, Yang Mulia. Di seluruh Aesterra tidak ada yang sanggup menyamai ketangguhan kekuatan pasukan Yang Mulia. Semua pasti akan takluk di hadapan Gargan.”
“Bukan itu yang membuatku tidak bisa tidur, Dalgude.” Sang majikan mendesah. Keningnya berkerut dan wajahnya masam, seperti ada masalah yang sangat berat yang saat ini sedang ia tanggung sendirian. Dalgude makin bingung, jangan-jangan ada masalah kenegaraan yang amat penting yang menyangkut kelangsungan kerajaan Gargan? Sang majikan melanjutkan. “Ini masalah nama, Dalgude.”
“Heh?”
“Masalah nama.”
“Heh??”
“Masalah nama. Kamu kok bolot.”
“I-iya, maksud saya, ada masalah apa dengan nama Yang Mulia?”
“Aku tidak pede menaklukkan dunia dengan namaku yang sekarang ini, Dalgude.”
“Walah.”
“Semua penjahat legendaris punya nama yang keren, Dalgude. Contohnya: Lex Luthor, The Joker, Magneto, Gerombolan Siberat, semua punya nama yang keren. Aku tidak yakin pada namaku sendiri… aku sedih…”
“Walah.”
“Aku akan mengganti namaku, Dalgude. Seluruh dunia akan takluk di bawah nama baruku! Hahaha!”
Dalgude geleng kepala, kadang-kadang majikannya memang gemar melakukan hal sinting. “Memangnya mau diganti pakai nama apa, Yang Mulia?”
“Dengar baik-baik, aku akan mengubah namaku menjadi: Lord Sauron!”
“Lho, nama itu bukannya sudah dipake di serial Lord of The Rings, Yang Mulia? Mungkin cari nama yang lain lagi?”
“He? Sudah dipake? Kalo begitu, aku akan menggunakan nama: Voldermort!”
“Ampun, Yang Mulia. Nama itu kan juga sudah dipake di seri Harry Potter, kita bisa dituntut sama JK Rowling kalau Yang Mulia pake nama itu. Mungkin Yang Mulia bisa…”
“Grr… gimana kalau: Darth Vader?!”
“Maaf. Itu juga sudah ada di serial Star Wars. Kalau saya boleh usul…”
“Gimana sih?! Ini gak boleh itu gak boleh! Ya sudah, daripada repot mendingan aku pake nama simpel aja: Pangeran Matahari!”
“Sekali lagi hamba mohon ampun, Yang Mulia. Tapi nama itu juga sudah digunakan oleh Bastian Tito di serial Wiro Sableng.”
“Kupret! Yang simpel gitu juga udah kepake? Kalau begitu nama mana yang belum dipake?”
“A-anu… saya tadi baru mau usul, bagaimana kalau memakai nama asli Yang Mulia saja? Lebih original dan tidak mengandung unsur plagiarisme. Lagipula kita kan harus bangga pada…”
“Edan kamu! Nama asliku kan Inez Croaz! Mana ada penjahat keren namanya Inez? Cowok pula! Ogah! Harus diganti!! Pokoknya harus diganti! Kalau gak diganti aku gak mau muncul lagi di cerita ini! Biarin pengarangnya bingung, salah sendiri kasih nama tokoh utama kok gak bermutu! Pake generator ato gimana kek, cari nama yang keren dikit! Sudah dikasih nama Inez, eh belakangnya Croaz pula, gak nyambung! Gak ada serem-seremnya!”
“Maaf Yang Mulia, tapi itu salah besar.” Dalgude mencoba membantah dan mengagungkan nama majikannya dengan bangga. “Nama Lord Croaz sudah sangat terkenal di seantero Aesterra. Siapa yang tidak mengenal Lord Croaz Raja Gargan? Raja agung dari sebuah kerajaan besar dengan pasukan perang yang paling tangguh di bumi Aesterra. Nama yang menyebarkan kengerian di setiap relung insani, nama yang dikagumi, disegani dan ditakuti. Saya yakin Yang Mulia, setelah menaklukan seluruh negeri, nama Yang Mulia akan makin dikenal, bahkan dikenang sepanjang masa: Lord Croaz Sang Penakluk, Raja Gargan, Raja seluruh negeri, Raja Aesterra!”
“Zzz…”
“Yang Mulia?”
“Zzzzzzz…”
“Ma-maaf, Yang Mulia?”
“Zzzzzzz… grooookkkkk.”
“Kepret. Malah ngorok.”
Angin dingin makin merasuk ke kulit, Dalgude memandang ke luar jendela menara, ke arah kegelapan. Sebentar lagi, Yang Mulia. Sebentar lagi. Batin hamba setia itu. Tak lama kemudian, iapun terlelap.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Word Count: 1253 (According to WordPress, lho…)
